Jakarta, InfoPublik – Bagi anak-anak yang lahir antara 1997–2012 (generasi Z) dan 2010–2024 (generasi Alpha), gawai bukan sekadar alat. Ia adalah sahabat, guru, sekaligus panggung untuk mengenali dunia. Anak-anak hari ini tumbuh dalam dua realitas sekaligus: dunia nyata yang bisa disentuh, dan dunia digital yang selalu menggoda untuk dijelajahi.
Ruang digital hari ini telah menjelma menjadi taman bermain baru bagi anak-anak generasi Z dan generasi Alpha. Dari layar gawai, mereka belajar, bermain, bersosialisasi, sekaligus membentuk identitas diri. Namun, di balik warna-warni dunia maya, tersembunyi rimba risiko yang kerap luput dari pengawasan orang dewasa.
“Mamah… Mamah…,” suara Obert Ozora (sembilan tahun) memecah keheningan malam di rumahnya di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Anita, sang ibu, yang sedang menyetrika pakaian, semula mengira itu hanya panggilan biasa. Namun tatapan Obert yang terpaku pada layar gawainya membuat Anita mendekat.
Di layar itu, muncul iklan pop-up judi online, konten yang sama sekali tak ia bayangkan akan dilihat anaknya. Semua bermula dari kegemaran Obert bermain gim Bus Simulator Indonesia (Bussid) yang diunduh dari Google Play Store. Di sela permainan, iklan-iklan bermuatan judi muncul berulang kali, seolah menjadi “tiket wajib” untuk terus bermain.
Sekolah, Gawai, dan Dunia Baru Anak
Di sekolah, Obert terbiasa belajar menggunakan Google Classroom. Materi, tugas, hingga pengumpulan jawaban dilakukan secara daring. Sepulang sekolah, waktu bermain gim daring menjadi sarana bersosialisasi dengan teman-temannya. Awalnya, orang tua Obert diliputi kekhawatiran. Namun perlahan, mereka melonggarkan aturan, tetap dengan pembatasan waktu. “Kami juga belajar memahami kalau dunia anak-anak sekarang memang beda,” ujar Anita di Palangka Raya beberapa waktu lalu.
Psikolog anak dan remaja Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kalimantan Tengah, Gerry Olvina, menjelaskan bahwa anak-anak memang mengalami transisi besar dalam cara berinteraksi. “Mereka tetap membutuhkan teman, hanya saja sekarang medianya berbeda. Yang penting, pendampingan tetap ada,” ujarnya.
Namun, ruang digital bukan hanya tentang kemudahan dan konektivitas. Di baliknya, risiko mengintai dalam senyap.
Risiko dalam Senyap
Konten tidak layak, perundungan daring, kecanduan gim, pornografi, hingga judi online menjadi ancaman nyata bagi tumbuh kembang anak. Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah mengingatkan bahaya serius paparan pornografi dan judi online terhadap kesehatan mental dan perkembangan otak anak dan remaja.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah (Dinkes Kalteng), Fery Iriawan, menjelaskan bahwa kecanduan konten digital berisiko merusak prefrontal cortex (PFC), bagian otak yang berperan dalam pengendalian diri, konsentrasi, empati, dan pengambilan keputusan. “Kerusakan PFC akibat kecanduan pornografi ibarat cedera otak berat. Kemampuan berpikir kritis, empati, dan membedakan benar salah pada remaja bisa menurun drastis,” jelas Fery.
Dari sisi sosial, anak yang kecanduan gawai cenderung menarik diri, prestasi akademik menurun, sulit berkomunikasi, dan menjauh dari aktivitas sosial. Dampaknya tidak berhenti di situ, gangguan tidur, kecemasan berlebihan, rendah diri, hingga hilangnya motivasi menjadi bagian dari risiko kesehatan mental jangka panjang.
Negara Hadir, Orang Tua Berperan
Menyadari kompleksitas tantangan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital mendorong penguatan literasi digital sekaligus regulasi perlindungan anak. Salah satunya melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).
Direktur Eksekutif Daerah PKBI Kalimantan Tengah, Kun Anang Supanto, menyebut PP Tunas sebagai langkah konkret negara dalam melindungi anak di ruang digital. “Regulasi ini mengatur batasan usia akses digital, kewajiban platform menyediakan fitur perlindungan dan edukasi, serta melarang profiling komersial anak-anak,” ujarnya.
Namun Kun menegaskan, tantangan terbesar bukan melarang anak mengakses internet, melainkan membekali mereka dengan kecakapan dan nalar kritis. “Membentengi anak dari paparan negatif dunia digital memerlukan penguatan mental, spiritual, dan pembentukan kebiasaan positif,” katanya.
Di sisi lain, psikolog Palangka Raya Kukuh Pribadi menyoroti kelemahan orang dewasa yang sering kali tertinggal dalam literasi digital. Keterbatasan ini membuat pendampingan menjadi tidak optimal. “Anak-anak menjelajah dunia digital tanpa filter nilai jika orang dewasa tidak adaptif,” ujarnya.
Ia menekankan pendekatan holistik: literasi digital berbasis kasih sayang, pendampingan aktif, serta penguatan identitas dan nilai diri anak. “Di antara layar dan langkah kaki, dunia anak-anak sedang dibentuk. Dan kita semua punya peran di dalamnya,” kata Kukuh.
Adapun, Bunda PAUD Kalimantan Tengah, Aisyah Thisia Agustiar Sabran, mengingatkan orang tua agar tidak terburu-buru mengenalkan media sosial kepada anak. “Media sosial bukan untuk anak-anak. Batasi aksesnya, dampingi penggunaannya. Ini bukan soal tren, tapi soal masa depan mereka,” tegasnya.
Sementara Pelaksana Tugas Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik (Diskominfotik) Provinsi Kalimantan Tengah, Rangga Lesmana, menegaskan literasi digital sebagai bekal utama generasi muda.
Literasi digital, menurutnya, bukan hanya soal bisa menggunakan gawai, tetapi juga kemampuan memverifikasi informasi, menjaga etika, dan mengelola jejak digital. “Membangun ruang digital yang ramah anak membutuhkan kehadiran orang dewasa yang peduli, sistem yang adil, dan kesadaran kolektif. Anak-anak butuh bimbingan,” tutup Rangga.
Di tengah derasnya arus teknologi, anak-anak Indonesia sedang belajar menyeimbangkan dua dunia. Dunia yang bisa mereka sentuh, dan dunia yang ada dalam genggaman. Dunia digital bukan lagi masa depan, ia adalah masa kini. Dan masa depan mereka ditentukan oleh sejauh mana kita hadir, mendampingi, dan menjaga.
(Artikel ini disadur ulang dari peraih Anugerah Jurnalistik Komdigi 2025 kategori media cetak, Agustinus Djata dari Palangka Post)
Sumber : https://infopublik.id/kategori/features/956166/pp-tunas-membentuk-ruang-digital-ramah-anak
