PENAJAM-Konsumsi pangan B2SA (beragam, bergizi seimbang dan aman) adalah aneka ragam bahan pangan, baik sumber karbohidrat, protein maupun vitamin dan mineral yang bila dikonsumsi dalam jumlah berimbang dapat memenuhi kecukupan gizi yang dianjurkan dalam waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat aktif dan produktif. Selain itu sesuai dengan daya terima (selera dan budaya) dan kemampuan daya beli masyarakat serta am an dikonsumsi.
Demikian dikatakan Kepala Seksi Konsumsi dan aneka Ragam Pangan pada Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Penajam Paser Utara saat mendampingi Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten PPU Surito di acara penyerahan Bahan dan alat praktek pencegahan Stunting Rabu (4/12) di Aula Balai Penyuluh Pertanian Kabupaten PPU oleh Ketua Tim Penggerak PKK Hj Risna Abdul Gafur.
“Untuk menyambut 1000 hari awal kehidupan yang dimulai dari terdeteksinya janin pada ibu hamil dianjurkan dalam jangka waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehat aktif dan produktif, selain itu sesuai dengan daya terima dan kemampuan daya beli masyarakat serta aman dikonsumsi dan halal,” terang Gunawan.
Menurutnya, pola konsumsi pangan merupakan salah satu upaya yang terus dilakukan untuk menghasilkan sumber daya mausia yang berkualitas dan unggul yaitu melalui perbaikan pola konsumsi pangan masyarakat menjadi lebih beragam baik untuk jenis pangan, sumber karbohidrat, sumber protein juga sumber vitamin dan mineral. Konsumsi pangan berkualitas dapat diwujudkan apabila pola konsumsi makanan sehari-hari dilakukan secara tepat, mengandung zat gizi lengkap sesuai dengan kebutuhan tubuh dengan jumlah berimbang, antar kelompok pangan berdasarkan cita rasa, daya cerna, daya terima masyarakat dan kemampuan daya beli masyarakat.
Dengan pangan yang bergizi Gunawan mengharapkan dapat mengatasi permasalahan gizi ganda yaitu kekurangan dan kelebihan gizi, salah satu masalah kekurangan gizi yang saat ini menjadi perhatian pemerintah adalah stunting yaitu kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.
“Peralatan dan bahan praktek ini diharapkan bisa membantu apa yang menjadi kendala kelompok dalam mempraktekkan pengolahan pangan, sehingga terwujud pola konsumsi B2SA berbasis sumber daya lokal,”terang Gunawan.
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten PPU Hj Risna Abdul Gafur menambahkan, adapun upaya Tim PKK selaku rekanan Pemerintah beserta dinas-dinas terkait dalam hal memberantas Stunting di daerah ini adalah setelah dipelajari terdapat indikasi kendala berkenaan dengan kenaikan angka jumlah stunting di PPU pada 2018 adalah 471 anak, sedangkan pada akhir November 2019 mengalami kenaikan 523 anak.
“Kenapa selalu mengalami kenaikan kita harus tahu, selidik punya selidik karena yang terdata di 2018 terdata 40 persen, sedangkan angka 523 setelah terdata 60 persen, bahkan menurut prediksi kami angka itu akan mengalami kenaikan lagi ketika pendataan itu sudah 100 persen,” ungkapnya
Risna menambahkan, dalam hal ini yang memiliki peran terpenting adalah para ibu, pertanyaannya sudahkah ibu-ibu ke posyandu?, sudahkah anak anak dibawa ke posyandu?, tetangga, kerabat, dipastikan apakah sudah semua ke posyandu, itu merupakan permasalahan jika belum dilakukan.
“Jadi pada masa kehamilan adalah merupakan masa emas bagi janin untuk mendapatkan asupan gizi dan vitamin yang harus dikonsumsi seorang ibu hamil, kita membutuhkan gizi dan vitamin sejak kita hamil, jika tidak dilakukan maka akan terasa sakit pada punggung ibu hamil lantaran segala gizi, vitamin dan kalsium ibu diambil oleh janin, nah itulah pentingnya ibu hamil mengkonsumsi makanan bergizi, bervitamin dan mengandung kalsium yang cukup adan seimbang,” Ujar istri bupati ini (humas8/Helena)
