Sosialisasi Program Pendidikan Agama Ponpes

Penajam – Ponpes Giring Anak Didiknya Miliki Ilmu Agama dan Akhlakul karimah

Tujuan para kiai mendirikan Pondok Pesantren adalah untuk membawa orang agar memiliki ilmu agama dan akhlak yang mulia atau akhlakul karimah, saat ini banyak orang belajar agama tanpa melalui bimbingan para kiai dan ustadz sehingga banyak orang memiliki ilmu pengetahun tentang agama namun tak memiliki akhlak kerena mendapatkan ilmu salah satu diantaranya dari jaringan internet atau lazim disebut dengan mbah google, jika mendapatkan ilmu agama melalui bimbingan para kiai insya Allah ilmunya dapat, dan santrinya memiliki akhlak.

Hal tersebut diungkap Kepala Kementerian Agama Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) H Maslekhan pada Sosialisasi Program Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Tentang Pondok Pesantren dan Lembaga Pendidikan Islam di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten PPU Selasa (22/1).

“Predikat yatim piatu bukan saja orang yang tak punya ayah dan ibu namun orang yang tidak berilmu dan tidak berakhlak juga tergolong yatim piatu, untuk itu kewajiban bagi pendidik agama baik di Ponpes maupun di Madrasah dan sekolah-sekolah untuk  memberikan pengetahuan agama dan akhlak, jadi ilmu dan akhlak itu harus sinergy, ilmu setinggi apapun jika akhlak tidak dimiliki maka ilmunya tidak berpungsi,” tegas Maslekhan.

Kepala Kemenag Selaku pembina terhadap ummat beragama di daerah ini menyampaikan ucapan terima kasih kepada para kiai pesantren dan para ustadznya demikian pula kepada guru agama di sekolah yang telah berjuang sesuai yang diharapka oleh para pendahulu dan pendiri bangsa ini untuk mengajak anak-anak bangsa ini agar memiliki ilmu dan akhlakulkarimah, karena sesuai ucapan Presiden RI Joko Widodo saat dilantik untuk mereformasi mental manusia Indonesia seperti Rasulullah Muhammad SAW jauh-jauh hari sebelumnya telah mereformasi akhlak manusia dari sisi akidah dan akhlak itu semua sudah direformasi dan telah diajarkan di Pondok-pondok pesantren.

Menurut Maslekhan ada 3 kelompok manusia antara lain, manusia seperti makanan pokok, mau tidak  mau setiap saat ia pasti diperlukan orang, jadi kalau punya Pondok pesantren semoga bagaikan makanan pokok, sehingga orang sangat memerlukan pendidikannya dan perlu hal yang baik-baik sehingga masyarakat sekitar memang merasa perlu untuk memiliki Pondok Pesantren.

“Manusia itu ada kalanya seperti obat, diperlukan orang pada saat dalam keadaan sakit, jika tidak sakit maka obat tidak diperlukan, dengan demikian hendaknya kita bukan seperti obat, ada juga manusia seperti penyakit, maka tidak ada orang yang suka terhadap penyakit, sehingga kemanapun kita dibenci oleh masyarakat, oleh kerena itu kita tampakkan keberadaan kita seperti makanan pokok sehingga kemanapun kita menjadi orang yang dicintai dan diperlukan,” ungkapnya.

Sosialisasi ini diikuti puluhan Kiai dan ustadz pesantren se-PPU dan dihadiri Kabid Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur Drs Samudi sebagai nara sumber. (Iskandar/Tita)