BKKBN Prov Kaltim Gelar Promosi Penyiapan Generasi Emas Sesuai Kearifan Lokal

PENAJAM – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) menggelar kegiatan yang bertema Promosi Penyiapan Generasi Emas Sesuai Kearifan Lokal dan Pengasuhan yang tepat 1000 hari pertama kehidupan dalam mencegah stunting, kegiatan tersebut berlangsung di Aula lantai 1 Kantor Bupati Penajam Paser Utara (PPU), Selasa (3/7).

 

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Sekda Tohar, Kepala Dinas P3A2KB PPU Riviana Noor, Kepala Dinas Kesehatan Arnold Wayong, dan peserta yang berasal dari perwakilan 10 kampung KB serta Narasumber Nyi Masdiane merupakan psikolog yang akan memberi pemahaman dalam mencegah stunting.

 

Eli Kusnaeli selaku perwakilan Kepala Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional Provinsi Kaltim, menjelaskan bahwa generasi emas adalah upaya untuk menyiapkan Indonesia emas yang disiapkan menjelang 100 tahun Indonesia merdeka, yaitu pada tahun 20145 mendatang.

Jadi pada 27 tahun mendatang diharapkan Indonesia akan memasuki generasi emas, dimana kesejahteraan tercapai dan memiliki kekuatan serta kualitas yang cukup.

Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa generasi emas diciptakan melalui peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dengan meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi.

“Tantangan untuk meningkatkan kualitas SDM adalah bagaimana kita meningkatkan kualitas kesehatan dan gizi yang cukup, salah satunya masalah gizi yang ditemukan di Indonesia saat ini adalah stunting yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis,” terangnya.

 

Oleh karena itu lanjut Eli Kusnaeli, bahwa pentingnya upaya promotif dan preventif dalam rangka perbaikan gizi untuk mengurangi stunting. Dalam mencegah dan menguranginya melalui upaya yang telah disepakati yakni dengan mengoptimalkan 1.000 hari pertama kehidupan dengan pemenuhan gizi kepada ibu hamil dan bayinya selama masa kehamilan sampai dengan umur anak 2 tahun.

“Untuk meningkat itu semua kita perlu upaya dan bersinergi bersama berbagai pihak terkait, termasuk bagaimana kita memberikan pemahaman kepada orang tua, dengan tujuan menjadi orang tua yang hebat dalam artian orang tua yang mampu membina dan mengasuh anak – anaknya menjadi anak yang berkualitas dan berkarakter. Hadi peran kampung KB sangat penting untuk mempromosikan ini dalam rangka menuju Indonesia emas,” jelasnya.

 

Pada kesempatan yang sama hal senada diungkapkan oleh Sekertariat Daerah (Sekda) Tohar,  bahwa sebuah tujuan dan upaya kedua itu harus berimbang agar dapat berjalan dengan sesuai apa yang diharapkan.

“Contohnya, kalau kita ingin mewujudkan sekolah unggulan, pastinya harus diisi dengan siswa yang unggul juga, begitu pula dalam konteks pembangunan dan pembinaan kependudukan,” ungkapnya.

 

Ditambahkannya, hal ini dimulai dari stakeholder yang memiliki keterkaitan fungsi baik secara langsung maupun tidak. Orang tua adalah sebagai stakhalder langsung memiliki peran utama dalam 1.000 haru pertama kehidupan anak dan selalu bersinergitas dengan pemerintah dalam mewujudkan hal ini.

Oleh karena itu, sinergi program lintas sektor dalam bentuk Kordinasi dan komunikasi sangan diperlukan untuk menyelesaikan masalah ini, karena dengan tujuan yang sama yaitu untuk masyarakat.

“Misalnya tugas fungsi dinas P3AP2KB dengan dinas kesehatan. Isi yang terakhir ditangani adalah isu stunting, dalam konteks kependudukan hal ini menjadi masalah, begitu pula untuk dinas kesehatan,” pungkasnya. (Fadli/Helena)