APBD Tahun 2018 ditetapkan Rp 1,102 triliun

Penajam, InfoPublik – APBD Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) 2017 ditetapkan Rp 1,102 triliun. Jumlah tersebut mengalami penurunan sedikit dari APBD 2017, yang ditetapkan Rp 1,22 triliun. Sementara belanja yang dialokasikan tahun depan hanya Rp 1,439 triliun. Angka itu turun Rp 1,616 triliun dibandingkan APBD 2017.

 

Sekkab PPU Tohar menjabarkan, defisit terjadi APBD 2018, bisa ditutupi dengan pembiayaan Rp 369,4 miliar. Berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran (silpa) tahun anggaran sebelumnya Rp 21,233 miliar dan pinjaman dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) sebesar Rp 348,167 miliar.

“Jadi tak ada defisit di tahun 2018.” ujar dia selepas Sidang Paripurna Pengesahan APBD 2018, Selasa (28/11).

 

Dia berharap, target yang telah diidentifikasi sebagai potensi rencana pendapatan dan belanja daerah tersebut bisa terealisasi. Sehingga, seluruh program yang telah dituangkan dalam dokumen Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) APBD 2018, bisa sesuai rencana. Termasuk efisiensi terhadap seluruh organisasi perangkat daerah (OPD). Bahkan hingga mencapai 20 persen, berdampak pada kegiatan perjalanan dinas dan pengadaan alat tulis kantor.

“Anggaran tetap ada. Tapi bagian dari daya dukung organisasi terhadap kinerja mesin birokrasi. Untuk melaksanakan program,” ujar ketua Tim Anggaran Pendapatan Daerah (TAPD) PPU itu.

 

Dalam APBD PPU 2018, dana perimbangan direncanakan Rp 861,268 miliar. Berkurang Rp 2,6 miliar atau 0,31 persen dari APBD 2017 (Rp 863,915 miliar). Sementara pendapatan asli daerah (PAD) direncanakan Rp 125,7 miliar. Nilainya tetap dari PAD yang ditetapkan pada 2017. Pendapatan daerah lain-lain yang sah bertambah menjadi Rp 115 miliar, Rp 23,178 miliar dari APBD 2017 (Rp 92 miliar).

 

Walaupun APBD mengalami penurunan, karena dua proyek fisik baru masuk dalam usulan APBD 2018. Yakni pembangunan Rumat Adat Paser atau Kuta dan puskesmas rawat inap untuk kawasan terjauh dari pusat pemerintahan di Kelurahan Gersik, Jenebora, dan Pantai Lango di Kecamatan Penajam, Kabupaten PPU.

 

Pembangunan Kuta disepakati sebesar Rp 3 miliar. Sementara pembangunan puskesmas rawat inap untuk Kelurahan Gersik, Jenebora, dan Pantai Lango diusulkan Rp 7 miliar. Diambil dari dana alokasi khusus (DAK) fisik reguler yang ditujukan untuk kegiatan pelayanan dasar, termasuk pelayanan kesehatan.

”Jadi untuk proyek pembangunan fisik baru, hanya ada dua,” kata Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang) PPU Alimuddin saat dihubungi kemarin.

 

Dia menjabarkan alasan dua proyek fisik baru itu bisa masuk kegiatan pembangunan 2018. Pembangunan Kuta yang letaknya berada di antara Stadion Panglima Sentik dan Gelanggang Olah Raga (GOR) PPU itu, untuk kegiatan pengembangan pariwisata PPU.

“Nanti Festival Nondoi bisa dilaksanakan di Kuta,” ucap dia.

 

Festival Nondoi yang digelar setiap tahun, diharapkan menarik wisatawan untuk berkunjung ke PPU, seperti halnya Festival Erau di Kukar yang selalu menyedot perhatian wisatawan domestik, maupun mancanegara. Tak hanya untuk Budaya Paser. Nantinya, Kuta diberi ruang untuk etnis lain mengenalkan kebudayaannya.

“Minimal seperti Taman Mini Indonesia,” kata mantan kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) PPU tersebut.

 

Sementara puskesmas rawat inap yang akan dibangun untuk memudahkan pelayanan kesehatan bagi warga tiga kelurahan. Mereka selama ini terkesan terisolasi karena sulit dijangkau. Terutama menggunakan jalur darat. Selama ini warga yang bermukim di Kelurahan Gresik, Jenebora, dan Pantai Lango harus menempuh perjalanan laut, untuk menikmati fasilitas kesehatan cukup memadai.

“Puskesmas rawat inap sudah lama ditunggu pembangunannya agar tidak mesti ke Penajam untuk berobat,” tutur Alimuddin.

 

Selain itu, yang menjadi perhatian dalam APBD PPU 2018 adalah hibah untuk KONI PPU sebesar Rp 8 miliar. Anggaran dinilai sangat kecil, mengingat pada 2018, sejumlah cabang olahraga (cabor) yang bernaung di bawah KONI akan mengikuti Porprov Kaltim di Kutai Timur. Pemkab PPU akan mengundang ketua KONI untuk memaparkan target pada porprov.

“Sehingga hanya mengirim atlet berpotensi yang memperoleh medali saja,” tandas dia. (Helena)