TARGET ASURANSI NELAYAN 1.500 ORANG

Penajam, Minat nelayan di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) mengurus asuransi sangat rendah. Berdasarkan data Dinas Perikanan PPU, jumlah nelayan di daerah ini sebanyak 4.022 orang. Namun yang terdafatar keikutsertaan nelayan baru 13 persen atau hanya 522 orang.

 

Kabid Perikanan Tangkap dan Perizinan, Dinas Perikanan PPU Mulyono mengatakan, pemerintah daerah telah mensosialsiasikan terkait program asuransi nelayan ini. Namun, sebagian besar nelayan tidak mau mengurus kepesertaan asuransi. Padahal, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menyiapkan program Bantuan Premi Asuransi Nelayan (BPAN). Setiap tahun premi nelayan ditanggung oleh negara sebesar Rp 175 ribu.

“Memang banyak nelayan tidak mau masuk ikut asuransi. Mereka berfikir bahwa mengurus asuransi sama saja mendoakan kecelakaan di laut,” kata Mulyono Jumat (3/11).

 

Program asuransi nelayan ini mulai bergulir sejak 2016 lalu, namun baru 522 nelayan di PPU yang telah mengantongi kartu kepesertaan asuransi nelayan. Mulyono menyatakan, Dinas Perikanan PPU diberi target oleh pemerintah pusat sebanyak 1.500 nelayan. Tetapi target itu sulit terpenuhi tahun ini.

“Kartu nelayan yang sudah dibagikan sebanyak 522. Sementara 389 orang yang telah mengajukan permohonan masih dalam proses,” ujarnya.

 

Dari target 1.500 tersebut, Mulyono mengaku hanya mempu memenuhi 50 persen dari target ini sampai akhir tahun. “Melihat kondisi dan respon nelayan, paling tidak hanya 50 persen terpenuhi dari target 1.500,” terangnya.

Warga yang ingin mengurus kepesertaan asuransi ini harus memiliki kelompok nelayan. Tak hanya itu, kartu nelayan menjadi syarat utama untuk masuk dalam program asuransi ini. Dinas Perikanan masih memiliki pekerjaan rumah terkait kartu nelayan tersebut. Karena dari 4.022 nelayan, yang memilki kartu nelayan baru 2.243 orang.

“Syarat utama, harus punya kartu nelayan,” tuturnya.

 

Asuransi nelayan itu merupakan program perlindungan pemerintah terhadap nelayan. Mulyono menyatakan, nelayan yang mengalami kecelakaan atau sakit akan biaya pengobatannya akan ditanggung sesuai dengan besaran tagihan pengobatan. Namun, ketika mengalami kecelakaan di laut dan meninggal dunia, maka ahli warisnya akan mendapatkan bantuan Rp 200 juta.

“Baru-baru ini ada nelayan, lengannya terkena parang pada saat membuat rumpon. Ketika berobat menggunakan kartu nelayan dan bisa diklaim. Kami mengimbau kepada seluruh nelayan yang belum memiliki artu asuransi agar segera mengurus di Dinas Perikanan PPU,” imbau Mulyono. (BP/Helena)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *